Metode Penelitian Filsafat

13 May

METODE PENELITIAN FILSAFAT

Pengertian , Masalah Dan Pentingnya Metode Penelitian Filsafat

  1. 1.      Pengertian Metode Penelitian Filsafat

METODE

metode secara harfiah adalah berasal dari bahasa yunani metodes, meta artinya menuju, melalui, sesudah, maengikuti, dan hodos artinya jalan, cara, atau arah. (Istilah yunani itu berasal dari bahasa latin yaitu methodus). Arti cesara luas metode adalah cara bertindak menurut sistem atau aturan tertentu, sedangkan arti secara khusus adalah cara berpikir menurut aturan atau sistem tertentu.

Jadi metode secara terminologi adalah cara-cara, langkah-langkah prosedur yang harus kita lakukan yang tidak boleh kita tinggalkan, jika salah satu kita tinggalkan maka kita belum bisa memprosesnya secara sempurna.

PENELITIAN

Penelitian adalah terjemaah dari kata Inggris research.Research itu sendiri berasal dari kata re, yang berarti “kembali” dan to search yang berarti “mencari”. Dengan demikian research atau riset adalah “mencarai kembali”

penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan, dan menganalisis sampai menyusun laporannya. Jadi penelitian adalah suatu proses yang berupa sesuatu rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara terencana dan sitematis untuk memperoleh pemecahan permasalahan atau untuk mendapatkan suatu kebenaran dan jawaban atas pertanyaa tersebut.

 FILSAFAT

Secara etimologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa, ia itu bahasa inggris dan bahasa Yunani, dalam bahasa Inggris ,iaitu”philosophy” sedangkan dalam bahasa Yunani “philein” atau “philo” yang artinya al-hikmah. Akan tetapi, kata tersebut pada awalnya berasal dari kata Yunani. “philos” artinya cinta, sedangkan “sophio” artinya kebijaksanaan, oleh karena itu, para ahli filsafatI di sebut dengan filosof, yakni orang yang mencintai kebijaksanaan atau kebenaran. Tetapi filosof bukan orang yang bijaksana atau berpegang teguh kebenaran, melainkan sedang belajar mencarai kebenaran atau kebijaksanaan.

Filsafat adalah pencaraian kebenaran melalaui berfikir yang sistematis, artinya pembicangaan atas segala seseuatu dilakukuan secara teratur mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapannmya mudah diikuti.Berfikir sistematis tentu tidak loncat-loncat, melainkan mengikuti aturan yang benar.

Jadi metode penelitian filsafat adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh dalam proses dalam tindakan / rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara terencana, sistematis untuk memperoleh pemecahan permasalahan atau jawaban pertanyaan tentang kefilsafatan. [1]

Atau pengertian lain metode penelitian filsafat adalah mencari cara berfikir filsafat dari mulai abad sebelum masehi sampai sekarang, dan salah satu syarat kevalidan untuk memperkuat bahwa itu hasil pemikiran filosof terdahulu maka harus ada bukti teks tual, yaitu menemukan catatan atau dokumen dahulu untuk memperkuat bahwa pemikiran yang kita temukan itu benar-benar dari filosof terdahulu dikumpulkan secara sistematis, darimulai pemikiran abad sebelum Masehi sampai sekarang ini, maka ketika kita sudah mampu mengumpulkan pemikiran filsafat dan di susun secara sistematis, maka bisa dikatakan itu semua hasil metode penelitaian filsafat[2]

 

  1. 2.      Masalah metode penelitian filsafat

Masalah adalah sesuatau yang menjadi bagian dari seluruh kehidupan manusia .

Menurut Nana Sudjana, ada tiga segi untuk mengukur kelayakan suatu masalah penelitian:

a)      Segi keilmuan

Masalah harus jelas kedudukannya dalam struktur keilmuan yang sedang dipelajari

b)      Segi metode keilmuan

Masalah penelitian harus dapat dipecahkan melalui lanhkah-langkah berpikir ilmiah atau metode ilmiah

c)      Segi kepentingan dan kegunaannya

Masalah penelitian harus relevan dengan kepentingan dan kegunaan mahasiswa atau penelitian yang bersangkutan dan kegunaan  

  1. Setiap penelitian selalu berangkat dari masalah, bila dalam peneliti telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah, maka pekerjaan penelitian 50 % telah selesai (Prof. Dr. Sugiyono, 1999, 25).
  2. Masalah merupakan kesenjangan/perbedaan apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi (Bambang Tri Cahyono, 1996, 7).
  3. Hal-hal yang dapat dipermasalahkan dalam penelitian adalah masalah (problem) atau peluang (opportunity) yang didefenisikan dengan jelas, baik keluasannya maupun kedalamannya. Masalah diartikan sebagai suatu situasi dimana suatu fakta yang terjadai sudah menyimpang dari batasan toleransi yang diharapkan. Sedangkan peluang adalah suatu kondisi eksternal yang menguntungkan jika dapat dirah dengan usaha-usaha tertentu tetapi dapat juga secara langsung atau tidak langsung menjadi ancaman bila peluang itu dapat dimanfaatkan oleh pesaing (Husein Umar, SE, MM, MBA., 1999, 8).
  4. Masalah riset merupakan suatu pernyataan informasi spesifik yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk membantu memecahkan masalah keputusan manajemen. Ketika masalah/peluang telah diketahui maka sebuah riset akan mendapatkan gambarannya (C. McDaniel  dan R. Gates, 2001, 52).
  5. Penelitian dapat diawali dengan adanya keingintahuan yang kuat dari peneliti, tanpa adanya kejadian yang sangat istimewa (negatif/positif), seseorang bisa melakukan penelitian karena ada sesuatu hal yang ingin diketahuinya sendiri guna kepentingan ilmunya sendiri. Seseorang yang tertarik dalam bidang ilmu manajemen dapat saja meneliti efektivitas gugus kendali mutu bukan untuk kegunaan praktis, tetapi semata-mata ingin membuktikan teori  yang dipelajarinya, atau untuk menyusun suatu teori yang baru (Hasan Mustafa, 1997) 
  6. Permasalahan yang baik memiliki karakteristik sebagai berikut: Pertama, peneliti memiliki keahlian dalam bidang yang dikaji. Kedua, tingkat kemampuan peneliti memang sesuai dengan tingkat kemampuan yang diperlukan untuk mememecahkan permasalahan yang ada. Ketiga, Peneliti memiliki sumber daya yang diperlukan. Keempat, peneliti telah mempertimbangkan kendala waktu, dana, dan berbagai kendala lain dalam pelaksanaan penelitian yang dilakukan (Mudrajad Kuncoro, Ph.D, 2003, 26) 
  7. Petunjuk untuk mengatasi penentuan masalah: 1). Tentukan secara tentatif atau coba-coba suatu topik, lalu pilihlah judul penelitian 2). Buat sketsa mengenai interrelasi dan perurutan-perurutan dari masalah-masalahnya pada secarik kertas, 3). Membahas luasnya area topik, dan berusaha menemukan aspek-aspek kesulitannya, yaitu pusat-pusat simpul yang harus diurai, 4) Dengan persoalan-persalan tersebut baca secara selektif buku-buku referensi, catatan-catatan, dokumen-dokumen, naskah-naskah, laporan-laporan, majalah, dan materi informatif lainnya yang telah dibuat penulis-penulis lain, dan ada sangkut pautnya dengan masalah yang tengah kita garap (Dra. Kartini Kartono, 1980, 55)
  8. Masalah penelitian dapat dilihat dalam tiga bentuk: 1). Exploratory Research (Riset untuk menemukan sesuatu): Ini adalah suatu riset yang  memecahkan problem/isu/topik baru yang sangat sedikit diketahui, sehingga ide riset sebelumnya tidak dapat diformulasi denan baik pada tahap awal. Persoalnnya dapat datang dari bagian disiplin ilmu, baik itu suatu tak-teki riset teoritis atau riset yang mempunyai dasar empiris, 2). Testing out research (Riset untuk menguji coba sesuatu), dalam riset ini kita mencoba untuk menemukan batas dari generalisasi yang diusulkan sebelumnya. Pada umumnya ini adalah riset dasar, misalnya “apakah suatu teori dapat diterapkan pada suhu tinggi”, jumlah testing yang dilakukan tidak terbatas dan terus menerus, karena dengan ini kita mampu untuk memperbaiki dengan menspesifikasi, momodifikasi, mengklarifikasi generalisasi yang dikembangkan oleh disiplin ilmu kita yang penting. 3). Problem Solving Research (Riset untuk memecahkan masalah): dari riset jenis ini kita mulai dari adanya suatu masalah “dalam dunia nyata” dan membawa semua sumber daya inteelktual untuk memecahkan masalahnya. Permasalahan harus dapat ditentukan secara jelas dan metode pemecahan masala harus ditemukan. Orang yang bekerja dalam cara ini harus menciptakan dan mengidentifikasi pemecahan masalah sebelumnya dalam setiap langkah. Ini biasanya melibatkan sejumlah teori dan metode, kadang-kadang melintas lebih dari satu disiplin, karena masalah dunia nyata pada umumnya messy (kacau) dan tidak dapat dipecahkan dalam batas sempit dari satu disiplin akademis (Prof. Dr. Ir. Jacub Rais, M.Sc., 2003)
  9. Yang disebut dengan masalah penelitian adalah hal-hal yang berkaitan dengan: masalah/problema (problem), peluang (opportunity), ketertarikan (anxiety), keraguan/ketidakpastian  (uncertainty), ketiadaan (blankness), kelangkaan (rarely), kemerosotan (decline), ketertinggalan (left behind) (Azuar Juliandi, 2004, 8).[3]

 

  1. Kegunaan dan pentingnya penelitian

Ada beberapa rumusan tentang manfaat dan pentingnya penelitian, antara lain:

  1. Manfaat bagi hidup sezaman; artinya hasil penelitian berguna bagi kehidupan pada masa itu
  2. Sumbangan bagi pembangunan negara dan masyarakat; artinya hasil penelitian tersebut sangat berguna bagi kepentingan pembangunan nasional maupun sekelompok masyarakat
  3. Sumbangan bagi pengembangan ilmu filsafat; artinya hasil penelitian tersebut berguna bagi keluasan wawasan kefilsafatan sehingga memungkinkan mampu mengantisipasi permasalan hidup dan kehidupan
  4. Kegunaan bagi perkembangan pribadi; artinya hasil penelitian filsafat mampu mengantarkan ke arah pendewasaan dan keluasan berpikir, aktualisasi berpikir dan sebagainya
  5. Perluasan pemahaman sampai dapat mengambil sikap[4]

 

 


[1] Narbuko Ckolid, Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, hlm.1-2

[4] Sudarto, Metode Penelitian Filsafat, hal.5

Filsafat

13 May

filsafat merupakan suatu sistem berfikir yg harus diterapkan dalam kehidupan, because tanpa berfilsafat seseorang akan menjadi fololwer dalam kehidupan tanpa tahu apa makna yang terselubung dibalik kehidupan itu sendiri. dan mengakibatkan seseorang itu akan takliq, stagnan, dan pasif dalam menjalani hidup. jadi intinya marilah kita asah potensi-potensi yang tersembunyi di dalam diri kita selama ini. 

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK MULTI DIMESIONAL

23 Apr

BAB II

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK

MULTI DIMESIONAL

 

Bebicara tentang manusia sebagai makhluk multidimesional, Drijarkara dalam bukunya Filsafat manusia (1969:7)>Manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri dan juga menghadapi(menghadapi kodrat). Manusia merupakan kesatuan dengan alam, tapi juga berjarak dengannya. Manusia bisa melakukan apa saja terhadap alam tidak seperti hewan. Lalu manusia selalu berubah dalam situasi, karena dia selalu terlibat dalam situasi, situasi itu berubah dan merubah manusia maka ia menyejarah. Banyak arti dari manusia, ini bukti bahwa manusia adalah makhluk multi dimensional.[1]

Dari sudut sejarah filsafat, Socrates dapat dinilai sebagai filusuf Yunani pertama yang begitu serius dan intensif menjadikan manusia sebagai salah satu tema sentral dalam pememikiran.

Seorang ulama  dan pemikir muslim berkebangsaan Iran, Murtadha Muthahhari dengan pijakan Alquran telah memformulasikan sisi positif manusia. Kedalam telaah yang mengacu pada sumber naqli Islam tersebut menjadi tidak terlalu berlebihan untuk menyatakan identifikasi beliau relative representative terhadap pandangan Islam tentang manusia. “Manusia adalah khalifah Tuhan di Bumi, manusia merupakan makhluk yang mempunyai inteligensi yang paling tinggi, manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan, manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsure surgawi yang luhur, manusia merupakan makhluk pilihan, manusia bersifat bebas dan merdeka.

Mengetengahkan secara paralel sisi positif dan sisi negative manusia sekaligus dengan okjektif merupakan dan seharusnya selalu menjadi karakter kemanusiaan. Ini  sesuatu yang sangat mendasar bagi manusia seperti dinyatakan oleh Blaise Pascal bahwa manusia, adalah bahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang, dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Manusia dalam pengertian yang ada dalam dirinya terdapat unsure positif sekaligus negative , memang tepat disebut sebagai makhluk ganda atau monodualis. Dengan segala potensi keunggulan, kelebihan yang ada padanya, manusia dapat mencapai manusia derajat yang paling tinggi.[2]

Reinhold Niebuhr pernah mengatakan bahwa manusia itu merupakan problema yang membingunkan. Manusia merupakan problema bagi dirinya sendiri. Apakah manusia merupakan anak kecil di dunia ini tak ubahnya seperti binatang dan hanya dapat memberi respons kepada naluri serta keinginan-keinginan kebinatangaannya? Atau apakah manusia itu mempunyai tempat yanga unik dan istimewa di dunia ini, karena ia mempunyai akal yang dapat melakukan interprestasi atau mengungkapkan arti dalam proses kehidupan dan sejarah? Manusia adalah sebagian dari alam dan mengambil bagian dalam cara bertindak.[3]

Secara sederhana hakikat manusia adalah merupakan makhluk dimensional yang mempunyai kelebihan dari pada makhluk lainnya. Manusia mempunyai kelebihan serta kehendak yang telah ada pada dirinya, dan juga manusia bagian dari alam yang melakukan apapun terhadap alam ia mempunyai tepat yang unik  dan istimewa berinterprestasi di dunia ini. Manusia merupakan titipan Tuhan keatas Bumi untuk melestarikan apa yang ada pada Bumi.

  1. A.    Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Manusia dilahirkan berpotensi sebagai makhluk sosial(hidup bersama dengan orang lain). Menurut Immanuel Kant, manusia hanya menjadi manusia jika berada diantara manusia.[4]

Setelah ditekankan hak-hak manusia atas dasar martabatnya sekarang harus diperhatikan, bahwa manusia juga oleh kodratnya adalah makhluk sosial. Semua manusia saling berhubungan dan mempersatukan dalam keseluruhan sosial (masyarakat); dan masyarakat ditunjukan kepada semua kepentingan anggotanya.[5] Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari pengaruh orang lain. Selama manusia hidup ia tidak akan lepa dari pengaruh masyarakat, dirumah, disekolah, dan di lingkungan yang lebih besar manusia tidak lepas dari pengaruh orang lain. Oleh karena itu manusia dikatakan sebagai makhluk social, yaitu makhluk yang didalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari manusia lain.[6]

August Comte (1875) mepelajari pendekatan evolusionis dalam sosiologi. Comte menaruh perhatian besar pada gejala social masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai suatu orde( susunan yang tetap dan tertib). Orde itu muncul karena adanya kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk social saling membutuhkan dan saling melengkapi. Tiap manusia dan kelompok manusia memiliki tugas dan kewajiban sendiri. Masyarakat disusun berdasarkan prinsip pembagian tugas. Jadi orde adalah keadaan normal yang bertumpu pada sifat social manusia.[7]

Dalam konteks social yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal orang lain oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait dengan orang lain. Manusia dikatakan sebagai makhluk social, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk mencari kawan atau teman. Manusia dikatakan juga sebagai makhluk social, karena manusia tidak akan hidup sebagai manusia kalau tidak hidup ditengah-tengah manusia.[8]

  1. B.    Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia sebagai makhluk budaya. Dilihat dari pengertian, budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa , dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi dan akal. Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengubah dan mengelolah alam.[9]

Manusia hidup bereksistensi pada bidangnya. Karena bidang ruang selalu dalam proses waktu, maka secara nalurilah semua eksistensi ( hidup ) berhadapan dengan masalah Masalah yang menghadang kemudian diberi respons oleh manusia dan itulah kebudayaan.[10]

Manusia dilahirkan dengan tingkah laku yang digerakan oleh insting dan naluri yang walaupun tidak termasuk bagian dari kebudayaan. Namun mempengaruhi kebudayaan, minsalnya kebutuhan akan makanan adalah kebutuhan dasar yang tidak termasuk kebudayaan. Tetapi bagaimana kebutuhan-kebutuhan itu dipengaruhi apa yang kita makan  dan bagaimana cara kita makan adalah bagian dari kebudayaan kita.[11]

Keseluruhan ini mencakup kegiatan-kegiatan duniawi seperti mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari kebudayaan, hal ini sama derajatnya dengan hal-hal yang lebih halus dalam kehidupan. Karena itu, bagi seorang ilmu social tidak ada masyarakat atau perorangan yang tidak berkebudayaan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhana kebudayaan itu dan setiap manusia adalah makhluk berbudaya.[12]

  1. C.    Manusia Sebagai makhluk Sejarah(History)

Memasuki pengertian yang hakiki melalui pengertian-pengertian umum maupun spesifik untuk memahami hakikat sejarah. Ternyata berdasarkan pelacak akar kata sejarah secara historis, ditemukan bahwa kata dari sejarah sesungguhnya mula-mula berasal dari bahasa Arab, yaitu “Syajaratun” yang dapat dibaca Syajarah yang berarti “pohon kayu”.

Namun pengertian semacam ini tidak bisa dipahami secara biologis. Tanpaknya, kalau istilah sejarah dengan istilah-istilah yang ada dalam bahasa nusantara, ditemukan beberapa kata yang pengertiannya kurang lebih mengandung arti sejarah. Untuk kepentingan ini, defenisi yang dikemukakan secara kuantitatif relative, karena pada dasarnya secara sistematis pengertian etimolgis dan terminologis lebih dimasudkan sebagai pengatar untuk sampai pada subtansi sejarah, yakni apa yang mejadi esensi dan nilai-nilai hakiki sejarah itu.

Sehubungan dengan itu, sejarah selalu berkaitan dengan masa lalu, dilakukan oleh manusia sebagai makhluk social, dan disajikan secara ilmiah. Pengertian lain mengenai sejarah dapat dikutip, “semua peristiwa masa yang lampau adalah sejarah (sejarah sebagai kenyataan)”. Defenisi yang filosofis juga dikemukakan “ sejarah adalah bentuk rohaniah dimana suatu kebudayaan mempertanggungjawabkan masa yang lampau”.

Secara praktis sejarah telah menempuh perjalanan yang amat panjang. Sepanjang perjalanan sejarah umat manusia, sejarah telah ada sejak manusia mulai bereksistensi dipermukaan bumi.[13]

Jadi disini hakikat dari sejarah itu sendiri terlahir karna adanya manusia, karna manusia yang berperan didalam sejarah itu sendiri. Manusia merupakan subjek sekaligus objek dalam sejarah tersebut. Karna manusialah segalanya diatas bumi ini.


[2] Juraid Abdul Latief, Manusia, filsafat, dan Sejarah. PT Bumi Aksara, Jakarta 2006, hal.15, 20, 21

[3] M. Rasidi, persoalan-persoalan filsafat. PT  Bulan Bintang, Jakarta 1984, hal. 30

[5] Josef Boumans, Telaah Sosial- Pastoral Tentang Manusia, Celesty Hieronika, Jakarta 2000, hal. 160

[6] Elly M. Setiadi, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, Kencana Media Group, Jakarta 2007, hal.67

[7] Usman Pelly, Asih Menanti, Teori Social Budaya, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1994, hal. 54-55

[8] Ibid, Elly M. Setiadi, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, hal. 67-68

[9] Ibid, Elly M. Setiadi, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, hal.27

[10] Ibid, Juraid Abdul Latief, Manusia, filsafat, dan Sejarah, hal. 23

[11] T.O. Ihromi, Antropologi Budaya, Yayasan Obor Indonesia, hal. 18-19

[12] Ibid, T.O. Ihromi, Antropologi Budaya, Yayasan Obor Indonesia, hal.18

[13] Ibid, Juraid Abdul Latief, Manusia, filsafat, dan Sejarah, hal.39-41

Hello world!

8 Dec

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Design a site like this with WordPress.com
Get started